Bahaya Gambar dan Patung Makhluk Bernyawa
Bahaya Gambar dan Patung Makhluk Bernyawa adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Burhan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 14 Sya’ban 1447 H / 2 Februari 2026 M.
Kajian Tentang Bahaya Gambar dan Patung Makhluk Bernyawa
1. Kesatuan Dakwah Tauhid Seluruh Rasul: Semua rasul, mulai dari Nabi Nuh ‘Alaihis Salam hingga Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sepakat bahwa inti dakwah mereka adalah tauhid yang murni (al-khalis). Tugas utama para rasul adalah mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan melarang mereka dari berbuat kesyirikan.
Hal ini juga dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat mengutus para sahabat beliau, seperti Muadz bin Jabal ke Yaman, dengan instruksi untuk mengutamakan dakwah tauhid sebelum perkara lainnya.
2. Keikhlasan dan Tidak Mengharapkan Imbalan Dunia: Seorang da’i wajib menjaga diri agar tidak tergiur oleh kesenangan dunia yang ada di tangan manusia. Prinsip utama dalam berdakwah adalah tidak meminta upah atau imbalan materi atas ilmu yang disampaikan. Nabi Nuh ‘Alaihis Salam memberikan keteladanan dalam hal ini.
3. Kesabaran yang Panjang dalam Berdakwah: Kesabaran merupakan kunci utama dalam mendakwahi manusia. Nabi Nuh ‘Alaihis Salam telah mencontohkan kesabaran yang luar biasa dengan berdakwah selama 950 tahun. Beliau melakukan dakwah siang dan malam, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, serta menggunakan berbagai macam metode agar pesan tersebut sampai kepada kaumnya.
Waktu 950 tahun bukanlah waktu yang singkat dibandingkan dengan masa dakwah manusia zaman sekarang yang terkadang merasa sudah cukup lama meski baru berjalan sepuluh tahun. Selain itu, indikator keberhasilan seorang dai bukan dilihat dari banyaknya jumlah pengikut. Meskipun Nabi Nuh ‘Alaihis Salam berdakwah dalam kurun waktu berabad-abad, jumlah pengikut beliau sangat sedikit.
Indikator keberhasilan dakwah seseorang tidak dapat diukur semata-mata dari banyaknya jumlah pengikut. Hal ini merujuk pada sejarah para nabi dan rasul yang diutus oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menceritakan bahwa kelak pada hari kiamat ada nabi yang hanya diikuti oleh satu atau dua orang, bahkan ada nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali.
Kondisi tersebut tidak berarti dakwah para nabi tersebut gagal. Keberhasilan seorang pendakwah dinilai dari sejauh mana ia tetap konsisten berada di jalan yang benar dan tidak menyimpang ke kanan maupun ke kiri. Selama seorang dai berada di atas rel dakwah yang sesuai dengan syariat, ia telah memenangkan dakwahnya, meskipun secara kuantitas jumlah pengikutnya sedikit.
4. Peringatan terhadap sikap ghuluw atau berlebih-lebihan kepada orang-orang saleh. Kesyirikan pertama yang muncul di muka bumi berawal dari penyakit ini. Sikap memuja manusia secara berlebihan merupakan perbuatan haram karena dapat menyeret seseorang pada kesyirikan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan batasan yang tegas mengenai kedudukan beliau:
لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
“Janganlah kalian menyanjungku secara berlebih-lebihan sebagaimana orang-orang Nasrani menyanjung Isa bin Maryam secara berlebih-lebihan. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah, ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya’.” (HR. Bukhari)
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah seorang hamba Allah (abdun) dan utusan-Nya (rasul).
عَبْدٌ لَا يُعْبَدُ وَرَسُولٌ لَا يُكَذَّبُ
“Beliau adalah hamba (Allah) maka tidak boleh disembah, dan beliau adalah Rasul maka tidak boleh didustakan.”
Sebagai hamba, beliau tidak boleh diibadahi, dan sebagai rasul, beliau tidak boleh didustakan.
Bahaya Gambar dan Patung Makhluk Bernyawa
Pelajaran kelima mencakup peringatan terhadap pembuatan gambar dan patung makhluk yang memiliki roh. Kaum Nabi Nuh ‘Alaihis Salam terjatuh ke dalam syirik disebabkan gambar dan patung orang saleh yang mereka buat. Berdasarkan penjelasan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, awalnya patung tersebut dibuat hanya untuk mengenang kesalehan mereka agar kaum tersebut bersemangat dalam beribadah. Namun, setelah ilmu agama hilang dan datang generasi yang bodoh, setan membisikkan bahwa patung-patung tersebut adalah sesembahan hingga akhirnya mereka disembah.
Setan menggoda manusia secara halus dan bertahap. Ia tidak langsung mengajak pada kesyirikan, melainkan melalui perantara gambar atau patung dengan alasan motivasi ibadah. Oleh karena itu, Islam mengharamkan pembuatan gambar dan patung makhluk hidup yang bernyawa. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ
“Sesungguhnya manusia yang paling berat azabnya pada hari kiamat adalah para penggambar (makhluk bernyawa).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kelak pada hari kiamat, orang-orang yang membuat gambar atau patung makhluk bernyawa akan ditantang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:
أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ
“Hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan ini!” (HR. Bukhari dan Muslim)
Larangan pembuatan gambar makhluk bernyawa menunjukkan bahwa perbuatan tersebut tidak diperbolehkan dalam Islam. Sebagai umat yang mengaku mencintai Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kita wajib mengikuti sabda beliau. Pengakuan cinta kepada beliau akan menjadi palsu dan sekadar rayuan jika sabda-sabda beliau justru ditinggalkan, tidak dipakai, atau bahkan dilecehkan.
Keinginan untuk mendapatkan syafaat dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam harus dibarengi dengan kepatuhan terhadap apa yang beliau perintahkan. Kepatuhan ini terkadang terasa sulit ketika hawa nafsu mendominasi cara berpikir. Sebagian orang beranggapan bahwa larangan ini akan mematikan kesenian dalam Islam. Pandangan tersebut justru menunjukkan cara berpikir yang sempit. Padahal, cakupan keindahan dan seni dalam Islam sangat luas; seseorang diperbolehkan menggambar pemandangan, laut, gunung, bintang, rumah, atau benda mati lainnya. Namun, ketika berhadapan dengan larangan tegas dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kita tidak boleh menentangnya dengan alasan apapun.
Setiap analogi atau perkataan yang tampak indah dan masuk akal, jika bertentangan dengan ajaran Islam, maka wajib ditolak. Sebagai contoh, pada masa jahiliah, masyarakat Arab melakukan tawaf di sekitar Ka’bah dalam keadaan telanjang bulat, baik laki-laki maupun perempuan. Mereka memiliki alasan yang tampak logis secara batiniah, yaitu tidak ingin melakukan tawaf dengan mengenakan pakaian yang pernah dipakai untuk bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Mereka ingin suci secara lahir dan batin.
Meskipun alasan tersebut terdengar masuk akal bagi masyarakat masa itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan tegas melarangnya. Pada tahun 9 Hijriah, beliau mengutus sahabat untuk mengumumkan bahwa tidak boleh lagi ada orang yang tawaf dalam keadaan telanjang. Hal ini membuktikan bahwa argumen sehebat apa pun tidak dapat diterima jika menyelisihi syariat. Kita harus memilih antara mengikuti analogi yang batil atau mengikuti ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Istighfar Sebagai Pintu Segala Kebaikan
Pelajaran keenam yang sangat penting adalah bahwa istighfar merupakan sebab datangnya setiap kebaikan. Istighfar adalah dasar dan pintu bagi kebaikan dunia maupun akhirat. Jika seseorang ingin mendapatkan kemudahan urusan, kelapangan hati, serta rezeki yang berkah, maka hendaknya ia memperbanyak istighfar.
Imam Sya’bi Rahimahullah menceritakan bahwa suatu ketika Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu keluar untuk melaksanakan salat istisqa (meminta hujan) karena musim kemarau yang panjang. Namun, selama proses tersebut, Umar tidak melakukan apapun selain terus-menerus memanjatkan istighfar hingga beliau pulang. Begitu selesai, hujan pun turun dengan lebatnya. Ketika orang-orang bertanya mengenai ketiadaan doa khusus atau salat istisqa yang panjang, Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu menjawab:
“Aku telah meminta hujan dengan gayung-gayung langit yang dengannya hujan diturunkan.”
Gayung-gayung langit yang dimaksud oleh beliau adalah istighfar. Beliau kemudian merujuk pada firman Allah ‘Azza wa Jalla:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Rabbmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun’.” (QS. Nuh[71]: 10)
Istighfar Sebagai Solusi Segala Persoalan
Kisah senada dialami oleh Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah. Suatu ketika, beberapa orang datang mengeluhkan berbagai persoalan hidup kepada beliau. Laki-laki pertama mengeluhkan musim kemarau, beliau menyarankan untuk beristighfar. Laki-laki kedua mengeluhkan kefakirannya, beliau pun menyarankan untuk beristighfar. Datang orang ketiga yang meminta didoakan agar dikaruniai anak, beliau kembali menyarankan istighfar. Bahkan, ketika ada yang mengeluh tentang kebunnya yang kering, jawabannya tetap sama; beristighfarlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Saat ditanya mengapa semua masalah dijawab dengan satu solusi yang sama, Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah menegaskan bahwa jawaban tersebut bukan berasal dari diri beliau sendiri, melainkan mengikuti janji Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an:
فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًا ﴿١٠﴾ يُرْسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا ﴿١١﴾ وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَٰلٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّٰتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَٰرًا ﴿١٢﴾
“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Rabbmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu’.” (QS. Nuh[71]: 10-12)
Kehidupan Antara Dosa Dan Nikmat
Dalam kitab Tsamarat As-Sirah An-Nabawiyah, dijelaskan bahwa seorang hamba di dunia ini senantiasa berada di antara dua keadaan, yaitu melakukan dosa dan menerima nikmat. Manusia tidak luput dari kekeliruan, kekurangan, maupun ketergelinciran, namun di saat yang sama Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap melimpahkan nikmat-Nya.
Kedua keadaan ini tidak dapat diperbaiki kecuali dengan dua perkara utama, yaitu Al-Hamd (pujian/syukur) dan istighfar. Jika seseorang tergelincir dalam dosa, maka obatnya adalah beristighfar. Sebaliknya, ketika mendapatkan nikmat, ia harus bersyukur dengan mengucapkan Alhamdulillah.
Ibnu Katsir Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan bahwa barang siapa yang memiliki istighfar sebagai sifat atau kebiasaan yang melekat pada dirinya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memudahkan rezekinya, dilancarkan segala urusannya, serta menjaga kehidupannya. Istighfar bukan sekadar ucapan, melainkan pembersih hati yang mampu memberikan jalan keluar atas setiap kesempitan.
Selain menjadi pembuka pintu rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, istighfar memiliki kekuatan untuk mengubah keadaan seorang hamba. Istighfar mengeluarkan manusia dari perbuatan yang dibenci oleh Allah ‘Azza wa Jalla menuju perbuatan yang dicintai-Nya, serta mengangkat derajat seseorang dari kekurangan menuju kesempurnaan.
Istighfar merupakan salah satu sebab utama untuk meraih husnul khatimah (akhir kehidupan yang baik), sarana penggugur dosa, serta jaminan keamanan di dunia dan akhirat. Melalui istighfar, keberkahan akan turun dari langit dan muncul dari bumi. Seorang mukmin senantiasa membutuhkan istighfar setiap waktu, baik siang maupun malam, dalam setiap ucapan maupun kondisinya.
Penting untuk dipahami bahwa para nabi pun senantiasa beristighfar. Hal ini menjadi teladan bagi umat manusia bahwa hamba yang paling mulia sekalipun tetap memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berikut adalah beberapa bentuk istighfar para nabi yang diabadikan dalam Al-Qur’an:
1. Istighfar Nabi Adam ‘Alaihis Salam dan Ibunda Hawa Keduanya menunjukkan adab dalam beristighfar dengan mengakui kesalahan diri sendiri tanpa menyalahkan pihak lain:
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Ya Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf[7]: 23)
2. Istighfar Nabi Nuh ‘Alaihis Salam Beliau memohonkan ampunan untuk diri sendiri, orang tua, dan seluruh kaum mukminin:
رَّبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
“Ya Rabbku, ampunilah aku, ibu bapakku, dan siapapun yang memasuki rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan.” (QS. Nuh[71]: 28)
3. Istighfar Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam Beliau memohon ampunan khususnya untuk menghadapi hari penghisaban:
رَبَّنَا اغْفِرْ لي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
“Ya Rabb kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari kiamat).” (QS. Ibrahim[14]: 41)
4. Istighfar Nabi Musa ‘Alaihis Salam Nabi Musa ‘Alaihis Salam yang dikaruniai kekuatan fisik luar biasa pernah secara tidak sengaja menyebabkan seseorang dari kaum Kibti meninggal dunia dengan sekali pukul. Menyadari keterlanjuran tersebut, beliau segera memohon ampun:
رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ
“Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku. Maka Allah mengampuninya.” (QS. Al-Qashash[28]: 16)
Kekuatan fisik Nabi Musa ‘Alaihis Salam adalah karunia Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana kisah beliau saat membantu dua wanita yang sedang mengantri memberi minum ternak mereka. Kekuatan tersebut bukan digunakan untuk kejahatan, melainkan untuk membantu sesama, namun beliau tetap beristighfar atas segala kekhilafannya.
Kekuatan fisik Nabi Musa ‘Alaihis Salam merupakan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang digunakan untuk menolong sesama. Dalam sebuah riwayat, para penggembala menutup sumur dengan batu yang sangat besar, yang hanya bisa diangkat oleh sepuluh orang kuat. Namun, Nabi Musa ‘Alaihis Salam mampu mengangkat batu tersebut sendirian dengan sangat ringan untuk membantu dua wanita yang sedang mengantri air. Tindakan ini murni dilakukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan karena keinginan kepada lawan jenis.
Meskipun memiliki kekuatan besar, Nabi Musa ‘Alaihis Salam tetaplah hamba yang rendah hati. Saat beliau terlibat dalam perselisihan yang mengakibatkan seorang kaum Kibti meninggal dunia, beliau tidak menyalahkan tekanan dari kaumnya. Sebaliknya, beliau mengakui kelemahan diri dan beristighfar dengan kalimat:
رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي
“Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri.” (QS. Al-Qashash[28]: 16)
Ini adalah bentuk istighfar yang paling utama, yaitu mengakui kezaliman diri sendiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa mencari alasan atau menyalahkan orang lain.
5. Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salam Nabi yang diberikan kekuasaan luar biasa ini mengawali permohonan kekuasaannya dengan istighfar:
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَّا يَنبَغِي لِأَحَدٍ مِّن بَعْدِي ۖ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
“Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapapun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (QS. Sad[38]: 35)
6. Nabi Daud ‘Alaihis Salam Beliau juga dikenal sebagai hamba yang sangat sering kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui permohonan ampun:
فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ
“Maka dia (Daud) memohon ampunan kepada Rabbnya, lalu dia menyungkur sujud dan bertobat.” (QS. Sad[38]: 24)
7. Nabi Yunus ‘Alaihis Salam Istighfar beliau mengandung tiga unsur agung: tauhid, tasbih, dan pengakuan dosa:
لَّا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya[21]: 87)
Doa Istighfar Yang Diajarkan Kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq
Pelajaran berharga datang dari manusia terbaik setelah para nabi, Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu. Beliau meminta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk diajarkan sebuah doa yang dibaca di dalam shalat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian mengajarkan doa yang sangat istimewa:
اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dengan kezaliman yang banyak, dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mengingat Abu Bakar Ash-ShiddiqRadhiyallahu ‘Anhu diperintahkan untuk mengakui “kezaliman yang banyak”, maka tentu kita lebih pantas lagi untuk terus merutinkan doa ini dalam shalat kita.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah sosok yang seluruh dosanya telah diampuni, namun beliau tidak pernah berhenti beristighfar. Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma menceritakan bahwa dalam satu majelis, beliau menghitung Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beristighfar sebanyak seratus kali dengan kalimat:
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Ya Rabbku, ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (HR. Abu Dawud)
Bahkan, beliau mencontohkan istighfar dalam berbagai kondisi, termasuk saat baru keluar dari toilet dengan mengucapkan ghufronaka (aku memohon ampunan-Mu). Para ulama menjelaskan bahwa permohonan ampun setelah keluar dari toilet dilakukan karena beliau merasa tidak dapat berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala selama berada di dalamnya. Hal ini menunjukkan betapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat memperhatikan keterikatan hatinya dengan zikir dan istighfar di setiap waktu.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa membasahi lisan dan hatinya dengan zikir. Beliau merasa bahwa tanpa zikir dan istighfar, seorang hamba akan berada dalam kekurangan. Oleh karena itu, syariat mengajarkan istighfar dalam berbagai rangkaian ibadah, mulai dari setelah berwudhu, dalam doa istiftah, hingga saat rukuk dan sujud dengan membaca:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
“Maha Suci Engkau, ya Allah, Rabb kami, dan dengan memuji-Mu. Ya Allah, ampunilah aku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Istighfar juga dibaca saat duduk di antara dua sujud, pada tasyahud akhir sebelum salam, hingga setelah selesai shalat fardhu sebanyak tiga kali. Bahkan setelah ibadah besar seperti haji dan shalat malam, umat Islam diperintahkan untuk beristighfar. Allah Subhanahu wa Ta’ala mensifati penghuni surga sebagai orang yang gemar beristighfar di waktu sahur:
وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzariyat[51]: 18)
Buah Pertama: Membersihkan Hati Dari Noda Dosa
Manfaat utama dari memperbanyak istighfar adalah bersihnya hati dari pengaruh buruk dosa. Setiap kali seorang hamba melakukan kesalahan, akan muncul titik hitam di hatinya. Jika ia bertaubat dan beristighfar, titik tersebut akan dibersihkan. Namun, jika ia terus melakukan kemaksiatan tanpa tobat, titik hitam itu akan menutupi seluruh hatinya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ
“Sesungguhnya seorang hamba, apabila melakukan satu perbuatan dosa, maka akan ditorehkan di hatinya satu titik hitam. Jika ia meninggalkannya dan beristighfar serta bertaubat, niscaya hatinya akan dibersihkan Namun jika ia mengulangi (dosa itu), maka titik hitam itu ditambah, hingga menutupi hatinya.” (HR. Tirmidzi)
Hati yang kotor karena maksiat akan membuat seseorang malas membaca Al-Qur’an. Barometer kesehatan hati dapat dilihat dari interaksi seseorang dengan kalamullah. Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu pernah berkata bahwa jika hati seseorang suci, ia tidak akan pernah merasa kenyang atau bosan membaca firman Allah ‘Azza wa Jalla. Maka, istighfar adalah langkah pertama untuk mendapatkan taufik agar kembali mencintai Al-Qur’an.
Buah Kedua: Jaminan Keamanan Dari Azab
Istighfar merupakan pelindung hamba dari azab Allah Subhanahu wa Ta’ala di dunia maupun di akhirat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.” (QS. Al-Anfal[8]: 33)
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menjelaskan bahwa manusia memiliki dua keamanan dari azab: keberadaan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan istighfar. Karena Nabi telah wafat, maka satu-satunya jaminan keamanan yang tersisa bagi umat manusia adalah istigfar.
Pesan Khusus Untuk Kaum Wanita
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara khusus memberikan arahan kepada kaum wanita untuk memperbanyak sedekah dan istighfar. Hal ini dikarenakan beliau melihat bahwa mayoritas penghuni neraka adalah dari kalangan wanita. Saat ditanyakan alasannya, beliau menjawab bahwa hal itu disebabkan karena seringnya mereka melaknat dan mengkufuri kebaikan suami (takfurnal asyir).
Sering kali seorang istri mendapatkan limpahan nafkah, kasih sayang, dan perhatian dari suaminya, namun saat terjadi satu masalah kecil, ia cenderung melupakan seluruh kebaikan tersebut. Maka, istighfar adalah sarana bagi para ibu dan kaum wanita untuk menjaga diri dari murka Allah ‘Azza wa Jalla dan menjauhkan diri dari siksa neraka.
Buah Ketiga: Sumber Kebaikan Dunia Dan Akhirat
Buah ketiga dari istighfar adalah menjadi sebab utama untuk memperoleh kebaikan di dunia maupun di akhirat. Kebaikan dunia yang dimaksud mencakup limpahan keberkahan, kesalehan anak cucu, kelapangan harta, hingga kekuatan fisik. Seseorang yang gemar beristighfar akan diberikan kekuatan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa perlu bergantung pada bantuan lahiriah yang semu.
Keteladanan ini terlihat pada para nabi, sahabat, dan ulama seperti Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau terbiasa berdzikir dan beristighfar dengan khusyuk setelah subuh hingga matahari meninggi. Beliau menyebut aktivitas tersebut sebagai sarapan rohani yang menjadi sumber kekuatannya; tanpa zikir tersebut, kekuatan fisik beliau akan melemah. Hal ini bersesuaian dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا
“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Rabbmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu’.” (QS. Nuh[71]: 10-11)
Janji mengenai kekuatan tambahan juga ditegaskan dalam Al-Qur’an melalui dakwah Nabi Hud ‘Alaihis Salam kepada kaumnya:
وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ
“Dan (Hud berkata), ‘Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Rabbmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras bagimu, dan Dia akan menambahkan kekuatan di atas kekuatanmu’.” (QS. Hud[11]: 52)
Umat Islam tidak perlu mencari wirid-wirid tertentu yang tidak berdasar, karena istighfar adalah wirid yang paling utama dan mencukupi. Seseorang yang senantiasa membasahi urusannya dengan kalimat Astaghfirullah wa atubu ilaih akan dimudahkan urusannya dan mendapatkan kedudukan mulia di akhirat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan kabar gembira bagi mereka yang memperbanyak istighfar:
طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا
“Beruntunglah bagi orang yang mendapati di dalam catatan amalnya istighfar yang banyak.” (HR. Ibnu Majah)
Ibarat pakaian yang kotor, hati manusia lebih membutuhkan proses pencucian daripada sekadar hiasan. Istighfar berfungsi sebagai pencuci noda-noda hati, sehingga urusan kehidupan menjadi lebih lapang. Istighfar yang dilakukan dengan khusyuk dan kesungguhan akan mendatangkan ketenangan batin yang luar biasa, bahkan di tengah situasi yang mengancam sekalipun.
Teladan nyata mengenai ketenangan melalui istighfar ditunjukkan oleh Nabi Yunus ‘Alaihis Salam. Di dalam kegelapan perut ikan, kegelapan malam, dan kegelapan dasar lautan, beliau tetap tenang karena lisannya dipenuhi doa:
لَّا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya[21]: 87)
Zikir dan istigfar mampu membuat seseorang tetap nyaman meskipun berada di tengah badai atau musibah. Hal ini membuktikan kebenaran janji Allah Subhanahu wa Ta’ala:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d[13]: 28)
Penutup Dan Pilihan Redaksi Istighfar
Sebagai penutup pembahasan, umat Islam dapat mengamalkan berbagai bentuk istighfar yang diajarkan dalam Al-Qur’an dan hadits:
- Istighfar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: Rabbighfirlii watub alayya innaka antat tawwabur rahim.
- Istighfar Nabi Yunus ‘Alaihis Salam: La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimin.
Istighfar Nabi Adam ‘Alaihis Salam: Rabbana zalamna anfusana wa illam tagfirlana watarhamna lanakunanna minal khosirin.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Bahaya Gambar dan Patung Makhluk Bernyawa” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56055-bahaya-gambar-dan-patung-makhluk-bernyawa/